-
SUJUD PERTAMA -
TUNDUK HINGGA KE PARAS LANTAI -
-
-
Subhana rabbiayal a'kla wabihamdih (3 Kali).
-
Maksudnya:
Maha Suci Tuhanku yang Maha Mulia dengan sifat kepujiannya.
Kedua tangan paras lantai, dahi juga hendaklah berkeadaan seperti di sebelah.
-
-
-
KEMUDIAN LAKUKAN DUDUK ANTARA DUA SUJUD -
-
-
Allahu Akbar
-
Maksudnya:
Allah Maha Besar
-
Kamis, 18 April 2013
SUJUD PERTAMA
Rabu, 27 Maret 2013
Cara menghitung tetesan infus
Rumus Tetesan Cairan infus<>Terkadang sebagai perawat, menghitung tetesan infus lebih sering dilakukan dengan ilmu kirologi (kira2), walaupun ada beberapa yang tepat, namun tak banyak juga yang benar-benar meleset jauh, karena kondisi pasien tak bisa semua modal kirologi, beberapa penyakit gagal organ akan sangat berdampak buruk akibat kelebihn cairan yang kita berikan. Sambil mereview lagi, mari kita hitung rumus tetesan infuse
Macro
Jika yang ingin dicari tahu adalah berapa tetesan yang harus kita cari dengan modal kita tahu jumlah cairan yang harus dimasukkan dan lamanya waktu, maka rumusnya adalah:
Tetes/menit : (jumlah cairan x 20) / (Lama Infus x 60)
Jika yang dicari adalah lama cairan akan habis, maka rumusnya adalah sebagai berikut:
Lama Infus: (Jumlah Cairan x 20) / (jumlah tetesan dlm menit x 60)
Misal: seorang pasien harus mendapat terapi cairan 500 ml dalam waktu 4 jam, maka jumlah tetesan yang harus kita berikan adalah (500 x 20 ) / ( 4 x 60 ) = 10000 / 240 = 41,7 = 42 tetes/menit begitupun untuk rumus lama infuse tinggal dibalik aja.
Micro
Selang infuse micro adalah selang infuse yang jumlah tetesannya lebih kecil dari macro, biasanya terdapat besi kecil di selangnya, dan biasanya digunakan untuk bayi, anak dan pasien jantung dan ginjal. Rumus untuk menghitung jumlah tetesannya adalah sebagai berikut:
Jumlah tetes/menit : (Jumlah cairan x 60 ) / (Lama Infus x 60)
Sedangkan rumus lamanya cairan habis adalah sebagai berikut:
Lama waktu : ( Jumlah Cairan x 60) / (jumlah tetesan dalam menit x 60)
2. Rumus Rumpleed test
Rumpleed test biasanya dilakukan untuk mengetahui tanda gejala awal adanya ptekee (bintik merah pada penderita DBD), ptekee muncul akibat pecahnya pembuluh darah kapiler, sehingga pada fase awal tidak akan langsung muncul, oleh karena itu tujuan rumpled test adalah untuk mengetahui lebih awal adanya ptekee. Rumus yang dipakai adalah (Sistole + Diastole) / 2, lalu tahan 5 – 10 menit. jika terdapat sepuluh atau lebih bintik merah, maka dikatakan rumpled test positif, jika kurang maka disebut rumpled test negative. Misal kita melakukan tensi darah hasilnya 120/80 mmHg (systole : 120, Diastole: 80), maka (120 + 80)/2 = 100 mmHg, maka kita pompa hingga alat tensi darah menunjukkan angka 100 mmHg, kita tutup tepat di angka 100 dan tahan selama 5 – 10 menit, lepaskan baru kita hitung jumlah bintik merahnya. Rumpleed test merupakan uji awal adanya gangguan trombosit pada penderita DBD, namun bukanlah hal untuk menegakkan diagnose DBD.
3. Rumus Kebutuhan Cairan
Kebutuhan cairan pada tubuh data dihitung sebagai berikut:
Pada anak < 10 Kg , maka 10 Kg maka dihitung 100 ml/ BB. Missal BB 8 kg maka kebutuhan cairan adalah 8 x 100 = 800 ml/hari.
Pada anak dengan BB 10 – 20 Kg, maka 1000 ml pada 10 kg pertama dan ditambah 50 ml per Kg penambahan berat badannya. Missal BB = 15 kg, maka 1000 ml ditambah 5 x 50 ml maka menjadi 1250 ml/ hari kebutuhan cairannya Pada seorang dengan berat badan > 20 Kg maka rumusnya adalah 1500 ml pada 20 kg pertama dan ditambah 20 ml/Kg sisanya, missal seseorang dengan BB 40 Kg, maka 20 kg pertama adalah 1500 ml, sedangkan 20 kg sisanya x 20 ml = 400 ml sehingga kebutuhan cairan seseorang dengan berat 40 kg adalah 1500 + 400 ml = 1900 ml/hari
4. Rumus luas Luka Bakar
Rumus luas luka bakar memang terkadang membuat kita harus lebih mengerutkan dahi, karena memang sulit-sulit gampang dalam penerapannya. Rumus pada bayi menggunakan rumus 10 – 20 %, jika tangan dan kaki yang terkena maka 10 %, jika kepala, leher dan badan depan dan belakang maka 20 %. Untuk dewasa menggunakan rumus Rule of Nine yang digambarkan sebagai berikut:

5. Rumus Body mass index (BMI)
Body Mass Index dicari menggunakan rumus BB (Kg) / TB2 (m)
Underweight :
Kurang dari 18.5
Normal : 18.5 - 24.9
Overweight/pre-obes : 25.0 - 29.9
Obes I : 30-34.9
Obes II : 35-39.9
Obes III: lebih dari atau sama dengan 40
Label:
umum
Kamis, 21 Februari 2013
SURAH AL-KAUTSAR
KEMUDIAN BACA SEBARANG SURAH
CONTOHNYA:- SURAH AL-KAUTSAR
Bismilla hirrahma nirrahim.
Inna a'ktainakal kautsar. Fasalli lirabbika wanhar. Innasya niakahual abtar.
Maknanya:
Dengan nama Allah yang maha pemurah lagi maha mengasihani. Sesungguhnya Kami (Allah) telah kurniakan kepadamu (Muhammad) nikmat yang banyak. Maka dirikanlah sembahyang kerana (syukur kepada) Tuhanmu dan berkorbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus.
Label:
solat
Senin, 18 Februari 2013
ASKEP HIPERTERMI
A. Pengertian
ASKEP HIPERTERMI>adalah peningkatan titik patokan (set point) suhu di hipotalamus (Corwin,
Elizabeth J, 2000).Dikatakan demam jika suhu orang menjadi lebih dari 37,5 ºC
(Oswari, E, 2006). Demam terjadi karena pelepasan pirogen dari dalam leukosit
yang sebelumnya telah terangsang oleh pirogen eksogen yang dapat berasal dari
mikroorganisme atau merupakan suatu hasil reaksi imunologik yang tidak
berdasarkan suatu infeksi (Noer, Sjaifoellah,2004). Pengaruh
pengaturan autonom akan mengakibatkan terjadinya vasokonstriksi perifer
sehingga pengeluaran (dissipation) panas menurun dan pasien merasa demam. Suhu
badan dapat bertambah tinggi lagi karena meningkatnya aktivitas metabolisme
yang juga mengakibatkan penambahan produksi panas dan karena kurang adekuat
penyalurannya ke permukaan maka rasa demam bertambah pada pasien.
B. Patofisiologi
Dengan
adanya peningkatan titik patokan tersebut, maka hipotalamus mengirim sinyal
untuk menaikkan suhu tubuh. Tubuh berespon dengan menggigil dan peningkatan
metabolisme basal.Demam
timbul sebagai respon terhadap pembentukkan interleukin-1, yang disebut pirogen
endogen. Interleukin-1 dibebaskan oleh neurofil aktif, makrofag, dan sel- sel
yang mengalami cedera. Interleukin-1 tampakanya menyebabkan panas dengan
menghasilkan prostaglandin, yang merangsang hipotalamus.
C. Tipe-tipe Demam
1. Demam Septik
Pada
demam septik, suhu badan berangsur naik ke tingkat yang tinggi sekali pada mlam
hari dan turun kembali ketingkat yang diatas normal pada pagi hari. Sering
disertai keluhan menggigil dan berkeringat. Bila demam yang tinggi tersebut
turun ke tingkat yang normal dinamakan juga demam hektik.
2. Demam RemitenPada
tipe demam remiten, suhu badan dapat turun setiap hari tetapi tidak pernah
mencapai suhu badan normal. Perbedaan suhu yang mungkin tercatat dapat mencapai
dua derajat dan tidak sebesar perbedaan suhuyang dicatat pad demam septic.
3. Demam Intermiten
Pada
tipe demam intermiten, suhu badan turun ketingkat yang normal selama beberapa
jam dalam satu hari. Bila demam seperti ini terjadi setiap dua hari sekali,
disebut tersiana dan bila terjadi duahari bebas demam diantara dua serangan
demam disebut kuartana.
4. Demam KontinyuPada
tipe demam kontinyu variasi suhu sepanjang hari tidak berbeda lebih dari satu
derajat. Pada tingkat demam yang terus menrus tinggi sekali disebut
hiperpireksia.
5. Demam Siklik
Pada
tipe demam siklik terjadi kenaikan suhu badan selama beberapa hari ayng diikuti
oleh periode bebas demam untuk beberapa hari yang kemudian diikuti oleh
kenaikan suhu seperti semula.
D. Etiologi
Penyebab
demam selain infeksi juga dapat disebabkan oleh keadaan toksemia, keganasan
atau reaksi terhadap pemakaian obat, juga gangguan pada pusat regulasi suhu
sentral (misalnya : perdarahan otak, koma). Pada dasarnya untuk mencapai
diagnosis penyebab demam diperlukan antara lain: ketelitian pengambilan riwayat
penyakit pasien, pelaksanaan pemeriksaan fisik, observasi perjalanan penyakit,
dan evaluasi pemeriksaan laboratorium serta penunjang lain secara tepat dan
holistic.
Beberapa
hal khusus prlu diperhatikan pada demam adalah cara timbul demam, lama demam,
sifat harian demam, tinggi demam serta keluhan dan gejala lain yang menyertai
demam.Demam
belum terdiagnosa adalah suatu keadaan dimana seorang pasien mengalami demam
terus menerus selama 3 minggu dengan suhu badan diatas 38,3 ºC dan tetap belum
ditemukan penyebabnya walaupun telah diteliti ssatu minggu secara intensif
dengan menggunakan sarana laboratorium dan penunjang lainnya.
E. Pemeriksaan Penunjang
Sebelum
meningkat ke pemeriksaan- pemeriksaan yang mutakhir, yang siap tersedia untuk
digunakan seperti ultrasonografi, endoskopi atu scanning, masih pdapat
diperiksa bebrapa uji coba darah, pembiakan kuman dari cairan tubuh/ lesi
permukaan atau sinar tembus rutin.
Dalam
tahap berikutnya dapat dipikirkan untuk membuat diagnosis dengan lebih pasti
melalui biopsy pada tempat- tempat yang dicurigai. Juga dapat dilakukan
pemeriksaan seperti angiografi, aortografi, atau limfangiografi.
F. Penatalaksanaan therapeutik
1. Antipiretik
2.
Antibiotik
3. Hindari
kompres aklohol dan air es.
G. Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian
a.
Identitas : umur untuk menentukan jumlah cairan
yang diperlukan
b.
Riwayat
kesehatan
a)
Keluhan
utama (keluhan yang dirasakan pasien saat pengkajian) : panas.
b)
Riwayat
kesehatan sekarang (riwayat penyakit yang diderita pasien saat masuk rumah
sakit): sejak kapan timbul demam, sifat demam, gejala lain yang menyertai demam
(misalnya: mual, muntah, nafsu makn, eliminasi, nyeri otot dan sendi dll),
apakah menggigil, gelisah.
c) Riwayat kesehatan yang lalu (riwayat penyakit
yang sama atau penyakit lain yang pernah diderita oleh pasien).
d)
Riwayat
kesehatan keluarga (riwayat penyakit yang sama atau penyakit lain yang pernah
diderita oleh anggota keluarga yang lain
baik bersifat genetik atau tidak).
2.
Pemeriksaan fisik
a.
Keadaan
umum : kesadaran, vital sign, status nutrisi
b.
Pemeriksaan
persistem
-
Sistem
persepsi sensori
-
Sistem persyarafan :
kesadaran
-
Sistem pernafasan
-
Sistem kardiovaskuler
-
Sistem gastrointestinal
-
Sistem integumen
-
Sistem perkemihan
- Pada fungsi kesehatan
a)
Pola persepsi dan pemeliharaan kesehatan
b)
Pola nutrisi dan metabolisme
c)
Pola eliminasi
d)
Pola aktivitas dan latihan
e)
Pola tidur dan istirahat
f)
Pola kognitif dan perseptual
g)
Pola toleransi dan koping stress
h)
Pola nilai dan keyakinan
i)
Pola hubungan dan peran
- Pemeriksaan penunjang
a)
laboratorium
b)
foto rontgent
c)
USG
H.
Diagnosa Keperawatan yang sering muncul
1. Hipertemia berhubungan dengan proses
penyakit
2. Resiko injury berhubungan dengan
infeksi mikroorganisme
3. Resiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan intake yang
kurang dan diaporesisi
I. Discharge Planning
- ajarkan keluarga mengenal tanda-tanda kekambuhan dan laporkan dokter atau perawat
- Instruksikan untuk memberikan pengobatan sesuai dengan dosis dan waktu
- Ajarkan bagaimana mengukur suhu tubuh dan intervensi
- Intruksikan untuk kontrol ulang
- Jelaskan factor penyebab demam dan menghindari factor pencetus.
J. Rencana Keperawatan
Rencana Keperawatan
No.
|
Diagnosa
Keperawatan
|
Tujuan
dan Kriteria Hasil (NOC)
|
Intervensi
(NIC)
|
1.
|
Hipertemia berhubungan dengan
proses penyakit.
Batasan karakeristik :
· kenaikan suhu tubuh diatas rentang normal
· serangan atau konvulsi (kejang)
· kulit kemerahan
· pertambahan RR
· takikardi
· saat disentuh tangan terasa hangat
|
Setelah dilakukan tindakan
perawatan selama ….X 24 jam, pasien mengalami keseimbangan termoregulasi dengan
kriteria hasil :
·
Suhu tubuh
dalam rentang normal 35,9 C – 37,5 C
· Nadi dan RR dalam rentang normal
· Tidak ada perubahan warna kulit
· Tidak ada pusing
|
Mengontrol panas
· Monitor
suhu minimal tiap 2 jam
· Monitor suhu basal secara kontinyu
sesui dengan kebutuhan.
· Monitor TD, Nadi, dan RR
· Monitor
warna dan suhu kulit
· Monitor
penurunan tingkat kesadaran
· Monitor
WBC,Hb, Hct
· Monitor
intake dan output
· Berikan
anti piretik
· Berikan
pengobatan untuk mengatasi penyebab demam
· Selimuti
pasien
· Lakukan
Tapid sponge
· Berikan
cairan intra vena
· Kompres
pasien pada lipat paha, aksila dan leher
· Tingkatkan
sirkulasi udara
· Berikan
pengobatan untuk mencegah terjadinya menggigil
Temperature Regulation
· Monitor tanda- tanda hipertermi
· Tingkatkan intake cairan dan nutrisi
· Ajarkan pada pasien cara mencegah
keletihan akibat panas
· Diskusikan tetang pentingnya
pengaturan suhu dan kemungkinan efek negative dari kedinginan
· Berikan obat antipiretik sesuai
dengan kebutuhan
· Gunakan matras dingin dan mandi air
hangat untuk mengatasi gangguan suhu tubuh sesuai dengan kebutuhan
· Lepasakan pakaian yang berlebihan dan
tutupi pasien dengan hanya selembar pakaian.
Vital Sign Monitoring
§ Monitor TD,
Nadi, Suhu, dan RR
§ Catat adanya
fluktuasi tekanan darah
§ Monitor vital
sign saat pasien berdiri, duduk dan berbaring
§ Auskultasi TD
pada kedua lengan dan bandingkan
§ Monitor TD,
Nadi, dan RR sebelum, selama, dan sesudah aktivitas
§ Monitor
kualitas dari nadi
§ Monitor
frekuensi dan irama pernapasan
§ Monitor suara
paru
§ Monitor pola
pernapasan abnormal
§ Monitor suhu,
warna dan kelembaban kulit
§ Monitor
sianosis perifer
§ Monitor
adanya tekanan nadi yang melebar , bradikardi, peningkatan sistolik (Chusing
Triad)
§ Identifikasi
penyebab dari perubahan vital Sign
|
2.
|
Resiko injury berhubungan dengan
infeksi mikroorganisme
|
Setelah dilakukan tindakan
keperawatan selama …x 24 jam, pasien tidak mengalami injury.
Risk Injury
Kriteria Hasil :
§
Klien terbebas dari cidera
§
Klien mampu menjelaskan
cara/metode untuk mencegah injury atau cedera
§
Klien mampu menjelaskan factor resiko
dari lingkunga atau perilaku personal
§
Mampu memodifikasi gaya hidup
untuk mencegah injury
§
Menggunakan fasilitas kesehatan
yang ada
§
Mampu mengenali perubahan status
kesehatan
|
·
Sediakan
lingkungan yang aman untuk pasien
·
Identifikasi
kebutuhan keamanan pasien sesuai dengan kondisi fisik dan fungsi kognitif
pasien dan riwayat penyakit terdahulu pasien
·
Menghindari
lingkungan yang berbahaya misalnya memindahkan perabotan
·
Memasang side
rail tempat tidur
·
Menyediakan
tempat tidur yang nyaman dan bersih
·
Meletakan
saklar lampu ditempat yang mudah dijangkau pasien
·
Membatasi
pengunjung
·
Memberikan
penerangan yang cukup
·
Menganjurkan
keluarga untuk menemani pasien
·
Mengontrol
lingkungan dari kebisingan
·
Memindahkan
barang-barang yang dapat membahayakan
·
Berikan
penjelasan pada pasien dan keluarga atau pengunjung adanya perubahan status
kesehatan dan penyebab penyakit.
|
3
|
Resiko kekurangan volume cairan
dengan faktor resiko faktor yang mempengaruhi kebutuhan cairan
(hipermetabolik)
|
Setelah dilakukan tindakan
keperawatan selama …x 24 jam, fluid balance dengan kriteria hasil :
· Mempertahankan urine output sesuai dengan usia dan BB, BJ
urine normal, HT normal
· Tekanan darah, nadi, suhu tubuh dalam batas normal
· Tidak ada tanda- tanda dehidrasi, elastisitas turgor kulit
baik, membrane mukosa lembab, tidak ada rasa haus yang berlebihan.
|
Fluid management:
· Pertahankan catatan intake dan output yang akurat
· Monitor status dehidrasi( kelembaban membrane mukosa, nadi
adekuat, tekanan darah ortostatik)
· Monitor vital sign
· Monitor asupan makanan/ cairan dan hitung intake kalori
harian
· Lakukan terapi IV
· Monitor status nutrisi
· Berikan cairan
· Berikan cairan IV pada suhu ruangan
· Dorong masukan oral
· Berikan penggantian nasogastrik sesuai output
· Dorong keluarga untuk membantu pasien makan
· Anjurkan minum kurang lebih 7-8 gelas belimbing perhari
· Kolaborasi
dokter jika tanda cairan berlebih muncul memburuk
· Atur kemungkinan transfusi
|
Langganan:
Postingan (Atom)