Kamis, 18 April 2013

SUJUD PERTAMA

SUJUD PERTAMA
TUNDUK HINGGA KE PARAS LANTAI
 

Subhana rabbiayal a'kla wabihamdih (3 Kali).
Maksudnya:
Maha Suci Tuhanku yang Maha Mulia dengan sifat kepujiannya.


 

 Kedua tangan paras lantai, dahi juga hendaklah berkeadaan seperti di sebelah.

 
KEMUDIAN LAKUKAN DUDUK ANTARA DUA SUJUD
 
Allahu Akbar
Maksudnya:
Allah Maha Besar

Rabu, 17 April 2013

IK'TIDAL

IK'TIDAL (KEMBALI BERDIRI SELEPAS RUKUK)
BERDIRI SAMBIL MEMBACA
IK'TIDAL

Rabu, 27 Maret 2013

Cara menghitung tetesan infus

Rumus Tetesan Cairan infus<>Terkadang sebagai perawat, menghitung tetesan infus lebih sering dilakukan dengan ilmu kirologi (kira2), walaupun ada beberapa yang tepat, namun tak banyak juga yang benar-benar meleset jauh, karena kondisi pasien tak bisa semua modal kirologi, beberapa penyakit gagal organ akan sangat berdampak buruk akibat kelebihn cairan yang kita berikan. Sambil mereview lagi, mari kita hitung rumus tetesan infuse

Macro
Jika yang ingin dicari tahu adalah berapa tetesan yang harus kita cari dengan modal kita tahu jumlah cairan yang harus dimasukkan dan lamanya waktu, maka rumusnya adalah:
Tetes/menit : (jumlah cairan x 20) / (Lama Infus x 60)
Jika yang dicari adalah lama cairan akan habis, maka rumusnya adalah sebagai berikut:
Lama Infus: (Jumlah Cairan x 20) / (jumlah tetesan dlm menit x 60)
Misal: seorang pasien harus mendapat terapi cairan 500 ml dalam waktu 4 jam, maka jumlah tetesan yang harus kita berikan adalah (500 x 20 ) / ( 4 x 60 ) = 10000 / 240 = 41,7 = 42 tetes/menit begitupun untuk rumus lama infuse tinggal dibalik aja.
Micro
Selang infuse micro adalah selang infuse yang jumlah tetesannya lebih kecil dari macro, biasanya terdapat besi kecil di selangnya, dan biasanya digunakan untuk bayi, anak dan pasien jantung dan ginjal. Rumus untuk menghitung jumlah tetesannya adalah sebagai berikut:
Jumlah tetes/menit : (Jumlah cairan x 60 ) / (Lama Infus x 60)
Sedangkan rumus lamanya cairan habis adalah sebagai berikut:
Lama waktu : ( Jumlah Cairan x 60) / (jumlah tetesan dalam menit x 60)

2. Rumus Rumpleed test
Rumpleed test biasanya dilakukan untuk mengetahui tanda gejala awal adanya ptekee (bintik merah pada penderita DBD), ptekee muncul akibat pecahnya pembuluh darah kapiler, sehingga pada fase awal tidak akan langsung muncul, oleh karena itu tujuan rumpled test adalah untuk mengetahui lebih awal adanya ptekee. Rumus yang dipakai adalah (Sistole + Diastole) / 2, lalu tahan 5 – 10 menit. jika terdapat sepuluh atau lebih bintik merah, maka dikatakan rumpled test positif, jika kurang maka disebut rumpled test negative. Misal kita melakukan tensi darah hasilnya 120/80 mmHg (systole : 120, Diastole: 80), maka (120 + 80)/2 = 100 mmHg, maka kita pompa hingga alat tensi darah menunjukkan angka 100 mmHg, kita tutup tepat di angka 100 dan tahan selama 5 – 10 menit, lepaskan baru kita hitung jumlah bintik merahnya. Rumpleed test merupakan uji awal adanya gangguan trombosit pada penderita DBD, namun bukanlah hal untuk menegakkan diagnose DBD.

3. Rumus Kebutuhan Cairan
Kebutuhan cairan pada tubuh data dihitung sebagai berikut:
Pada anak < 10 Kg , maka 10 Kg maka dihitung 100 ml/ BB. Missal BB 8 kg maka kebutuhan cairan adalah 8 x 100 = 800 ml/hari. 
Pada anak dengan BB 10 – 20 Kg, maka 1000 ml pada 10 kg pertama dan ditambah 50 ml per Kg penambahan berat badannya. Missal BB = 15 kg, maka 1000 ml ditambah 5 x 50 ml maka menjadi 1250 ml/ hari kebutuhan cairannya Pada seorang dengan berat badan > 20 Kg maka rumusnya adalah 1500 ml pada 20 kg pertama dan ditambah 20 ml/Kg sisanya, missal seseorang dengan BB 40 Kg, maka 20 kg pertama adalah 1500 ml, sedangkan 20 kg sisanya x 20 ml = 400 ml sehingga kebutuhan cairan seseorang dengan berat 40 kg adalah 1500 + 400 ml = 1900 ml/hari


4. Rumus luas Luka Bakar
Rumus luas luka bakar memang terkadang membuat kita harus lebih mengerutkan dahi, karena memang sulit-sulit gampang dalam penerapannya. Rumus pada bayi menggunakan rumus 10 – 20 %, jika tangan dan kaki yang terkena maka 10 %, jika kepala, leher dan badan depan dan belakang maka 20 %. Untuk dewasa menggunakan rumus Rule of Nine yang digambarkan sebagai berikut:



5. Rumus Body mass index (BMI)
Body Mass Index dicari menggunakan rumus BB (Kg) / TB2 (m)

Underweight :
Kurang dari 18.5
Normal : 18.5 - 24.9
Overweight/pre-obes : 25.0 - 29.9
Obes I : 30-34.9
Obes II : 35-39.9
Obes III: lebih dari atau sama dengan 40

Kamis, 21 Februari 2013

SURAH AL-KAUTSAR

KEMUDIAN BACA SEBARANG SURAH
CONTOHNYA:- SURAH AL-KAUTSAR 


Bismilla hirrahma nirrahim. 
Inna a'ktainakal kautsar. Fasalli lirabbika wanhar. Innasya niakahual abtar. 

Maknanya: 
Dengan nama Allah yang maha pemurah lagi maha mengasihani. Sesungguhnya Kami (Allah) telah kurniakan kepadamu (Muhammad) nikmat yang banyak. Maka dirikanlah sembahyang kerana (syukur kepada) Tuhanmu dan berkorbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus. 

Senin, 18 Februari 2013

ASKEP HIPERTERMI

A.     Pengertian
ASKEP HIPERTERMI>adalah peningkatan titik patokan (set point) suhu di hipotalamus (Corwin, Elizabeth J, 2000).Dikatakan demam jika suhu orang menjadi lebih dari 37,5 ºC (Oswari, E, 2006). Demam terjadi karena pelepasan pirogen dari dalam leukosit yang sebelumnya telah terangsang oleh pirogen eksogen yang dapat berasal dari mikroorganisme atau merupakan suatu hasil reaksi imunologik yang tidak berdasarkan suatu infeksi (Noer, Sjaifoellah,2004).Pengaruh pengaturan autonom akan mengakibatkan terjadinya vasokonstriksi perifer sehingga pengeluaran (dissipation) panas menurun dan pasien merasa demam. Suhu badan dapat bertambah tinggi lagi karena meningkatnya aktivitas metabolisme yang juga mengakibatkan penambahan produksi panas dan karena kurang adekuat penyalurannya ke permukaan maka rasa demam bertambah pada pasien.

B.     Patofisiologi
Dengan adanya peningkatan titik patokan tersebut, maka hipotalamus mengirim sinyal untuk menaikkan suhu tubuh. Tubuh berespon dengan menggigil dan peningkatan metabolisme basal.Demam timbul sebagai respon terhadap pembentukkan interleukin-1, yang disebut pirogen endogen. Interleukin-1 dibebaskan oleh neurofil aktif, makrofag, dan sel- sel yang mengalami cedera. Interleukin-1 tampakanya menyebabkan panas dengan menghasilkan prostaglandin, yang merangsang hipotalamus.

C.     Tipe-tipe Demam
1.      Demam Septik
Pada demam septik, suhu badan berangsur naik ke tingkat yang tinggi sekali pada mlam hari dan turun kembali ketingkat yang diatas normal pada pagi hari. Sering disertai keluhan menggigil dan berkeringat. Bila demam yang tinggi tersebut turun ke tingkat yang normal dinamakan juga demam hektik. 

2.      Demam RemitenPada tipe demam remiten, suhu badan dapat turun setiap hari tetapi tidak pernah mencapai suhu badan normal. Perbedaan suhu yang mungkin tercatat dapat mencapai dua derajat dan tidak sebesar perbedaan suhuyang dicatat pad demam septic. 

3.      Demam Intermiten
Pada tipe demam intermiten, suhu badan turun ketingkat yang normal selama beberapa jam dalam satu hari. Bila demam seperti ini terjadi setiap dua hari sekali, disebut tersiana dan bila terjadi duahari bebas demam diantara dua serangan demam disebut kuartana. 

4.      Demam KontinyuPada tipe demam kontinyu variasi suhu sepanjang hari tidak berbeda lebih dari satu derajat. Pada tingkat demam yang terus menrus tinggi sekali disebut hiperpireksia. 

5.      Demam Siklik
Pada tipe demam siklik terjadi kenaikan suhu badan selama beberapa hari ayng diikuti oleh periode bebas demam untuk beberapa hari yang kemudian diikuti oleh kenaikan suhu seperti semula.

D.     Etiologi
Penyebab demam selain infeksi juga dapat disebabkan oleh keadaan toksemia, keganasan atau reaksi terhadap pemakaian obat, juga gangguan pada pusat regulasi suhu sentral (misalnya : perdarahan otak, koma). Pada dasarnya untuk mencapai diagnosis penyebab demam diperlukan antara lain: ketelitian pengambilan riwayat penyakit pasien, pelaksanaan pemeriksaan fisik, observasi perjalanan penyakit, dan evaluasi pemeriksaan laboratorium serta penunjang lain secara tepat dan holistic. 

Beberapa hal khusus prlu diperhatikan pada demam adalah cara timbul demam, lama demam, sifat harian demam, tinggi demam serta keluhan dan gejala lain yang menyertai demam.Demam belum terdiagnosa adalah suatu keadaan dimana seorang pasien mengalami demam terus menerus selama 3 minggu dengan suhu badan diatas 38,3 ºC dan tetap belum ditemukan penyebabnya walaupun telah diteliti ssatu minggu secara intensif dengan menggunakan sarana laboratorium dan penunjang lainnya.

E.     Pemeriksaan Penunjang
Sebelum meningkat ke pemeriksaan- pemeriksaan yang mutakhir, yang siap tersedia untuk digunakan seperti ultrasonografi, endoskopi atu scanning, masih pdapat diperiksa bebrapa uji coba darah, pembiakan kuman dari cairan tubuh/ lesi permukaan atau sinar tembus rutin. 
Dalam tahap berikutnya dapat dipikirkan untuk membuat diagnosis dengan lebih pasti melalui biopsy pada tempat- tempat yang dicurigai. Juga dapat dilakukan pemeriksaan seperti angiografi, aortografi, atau limfangiografi.

F.      Penatalaksanaan therapeutik
1.      Antipiretik
2.       Antibiotik
3.      Hindari kompres aklohol dan air es.

G.    Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian
a.       Identitas : umur untuk menentukan jumlah cairan yang diperlukan
b.      Riwayat kesehatan
a)              Keluhan utama (keluhan yang dirasakan pasien saat pengkajian) : panas.
b)          Riwayat kesehatan sekarang (riwayat penyakit yang diderita pasien saat masuk rumah sakit): sejak kapan timbul demam, sifat demam, gejala lain yang menyertai demam (misalnya: mual, muntah, nafsu makn, eliminasi, nyeri otot dan sendi dll), apakah menggigil, gelisah.
c)  Riwayat kesehatan yang lalu (riwayat penyakit yang sama atau penyakit lain yang pernah diderita oleh pasien).
d)      Riwayat kesehatan keluarga (riwayat penyakit yang sama atau penyakit lain yang pernah diderita oleh anggota keluarga yang lain baik bersifat genetik atau tidak).
2.      Pemeriksaan fisik
a.       Keadaan umum : kesadaran, vital sign, status nutrisi
b.      Pemeriksaan persistem
-          Sistem persepsi sensori
-          Sistem persyarafan : kesadaran
-          Sistem pernafasan
-          Sistem kardiovaskuler
-          Sistem gastrointestinal
-          Sistem integumen
-          Sistem perkemihan

  1. Pada fungsi kesehatan
a)      Pola persepsi dan pemeliharaan kesehatan
b)      Pola nutrisi dan metabolisme
c)      Pola eliminasi
d)      Pola aktivitas dan latihan
e)      Pola tidur dan istirahat
f)       Pola kognitif dan perseptual
g)      Pola toleransi dan koping stress
h)      Pola nilai dan keyakinan
i)        Pola hubungan dan peran
  1. Pemeriksaan penunjang
a)      laboratorium
b)      foto rontgent
c)      USG

H.    Diagnosa Keperawatan yang sering muncul
1.      Hipertemia berhubungan dengan proses penyakit
2.      Resiko injury berhubungan dengan infeksi mikroorganisme
3.      Resiko kekurangan  volume cairan berhubungan dengan intake yang kurang dan diaporesisi

I.       Discharge Planning
  1. ajarkan keluarga mengenal tanda-tanda kekambuhan dan laporkan dokter atau perawat
  2. Instruksikan untuk memberikan pengobatan sesuai dengan dosis dan waktu
  3. Ajarkan bagaimana mengukur suhu tubuh dan intervensi
  4. Intruksikan untuk kontrol ulang
  5. Jelaskan factor penyebab demam dan menghindari factor pencetus.

J. Rencana Keperawatan
Rencana Keperawatan


No.
Diagnosa Keperawatan
Tujuan dan Kriteria Hasil (NOC)
Intervensi (NIC)
1.
Hipertemia berhubungan dengan proses penyakit.
Batasan karakeristik :
·        kenaikan suhu tubuh diatas rentang normal
·        serangan atau konvulsi (kejang)
·        kulit kemerahan
·        pertambahan RR
·       takikardi
·       saat disentuh tangan terasa hangat
Setelah dilakukan tindakan perawatan selama ….X 24 jam, pasien mengalami keseimbangan termoregulasi dengan kriteria hasil :
·         Suhu tubuh dalam rentang normal 35,9 C – 37,5 C
·         Nadi dan RR dalam rentang normal
·         Tidak ada perubahan warna kulit
·         Tidak ada pusing


Mengontrol panas
·    Monitor suhu minimal tiap 2 jam
·    Monitor suhu basal secara kontinyu sesui dengan kebutuhan.
·    Monitor TD, Nadi, dan RR
·    Monitor warna dan suhu kulit
·    Monitor penurunan tingkat kesadaran
·    Monitor WBC,Hb, Hct
·    Monitor intake dan output
·    Berikan anti piretik
·    Berikan pengobatan untuk mengatasi penyebab demam
·    Selimuti pasien
·    Lakukan Tapid sponge
·    Berikan cairan intra vena
·    Kompres pasien pada lipat paha, aksila dan leher
·    Tingkatkan sirkulasi udara
·    Berikan pengobatan untuk mencegah terjadinya menggigil
Temperature Regulation
·    Monitor tanda- tanda hipertermi
·    Tingkatkan intake cairan dan nutrisi
·    Ajarkan pada pasien cara mencegah keletihan akibat panas
·    Diskusikan tetang pentingnya pengaturan suhu dan kemungkinan efek negative dari kedinginan
·    Berikan obat antipiretik sesuai dengan kebutuhan
·    Gunakan matras dingin dan mandi air hangat untuk mengatasi gangguan suhu tubuh sesuai dengan kebutuhan
·    Lepasakan pakaian yang berlebihan dan tutupi pasien dengan hanya selembar pakaian.
Vital Sign Monitoring
§  Monitor TD, Nadi, Suhu, dan RR
§  Catat adanya fluktuasi tekanan darah
§  Monitor vital sign saat pasien berdiri, duduk dan berbaring
§  Auskultasi TD pada kedua lengan dan bandingkan
§  Monitor TD, Nadi, dan RR sebelum, selama, dan sesudah aktivitas
§  Monitor kualitas dari nadi
§  Monitor frekuensi dan irama pernapasan
§  Monitor suara paru
§  Monitor pola pernapasan abnormal
§  Monitor suhu, warna dan kelembaban kulit
§  Monitor sianosis perifer
§  Monitor adanya tekanan nadi yang melebar , bradikardi, peningkatan sistolik (Chusing Triad)
§  Identifikasi penyebab dari perubahan vital Sign
2.
Resiko injury berhubungan dengan infeksi mikroorganisme
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama …x 24 jam, pasien tidak mengalami injury.
Risk Injury
Kriteria Hasil :
§  Klien terbebas dari cidera
§  Klien mampu menjelaskan cara/metode untuk mencegah injury atau cedera
§  Klien mampu menjelaskan factor resiko dari lingkunga atau perilaku personal
§  Mampu memodifikasi gaya hidup untuk mencegah injury
§  Menggunakan fasilitas kesehatan yang ada
§  Mampu mengenali perubahan status kesehatan
·         Sediakan lingkungan yang aman untuk pasien
·         Identifikasi kebutuhan keamanan pasien sesuai dengan kondisi fisik dan fungsi kognitif pasien dan riwayat penyakit terdahulu pasien
·         Menghindari lingkungan yang berbahaya misalnya memindahkan perabotan
·         Memasang side rail tempat tidur
·         Menyediakan tempat tidur yang nyaman dan bersih
·         Meletakan saklar lampu ditempat yang mudah dijangkau pasien
·         Membatasi pengunjung
·         Memberikan penerangan yang cukup
·         Menganjurkan keluarga untuk menemani pasien
·         Mengontrol lingkungan dari kebisingan
·         Memindahkan barang-barang yang dapat membahayakan
·         Berikan penjelasan pada pasien dan keluarga atau pengunjung adanya perubahan status kesehatan dan penyebab penyakit.
3
Resiko kekurangan volume cairan dengan faktor resiko faktor yang mempengaruhi kebutuhan cairan (hipermetabolik)
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama …x 24 jam, fluid balance dengan kriteria hasil :
·         Mempertahankan urine output sesuai dengan usia dan BB, BJ urine normal, HT normal
·         Tekanan darah, nadi, suhu tubuh dalam batas normal
·         Tidak ada tanda- tanda dehidrasi, elastisitas turgor kulit baik, membrane mukosa lembab, tidak ada rasa haus yang berlebihan.
Fluid management:
·         Pertahankan catatan intake dan output yang akurat
·         Monitor status dehidrasi( kelembaban membrane mukosa, nadi adekuat, tekanan darah ortostatik)
·         Monitor vital sign
·         Monitor asupan makanan/ cairan dan hitung intake kalori harian
·         Lakukan terapi IV
·         Monitor status nutrisi
·         Berikan cairan
·         Berikan cairan IV pada suhu ruangan
·         Dorong masukan oral
·         Berikan penggantian nasogastrik sesuai output
·         Dorong keluarga untuk membantu pasien makan
·         Anjurkan minum kurang lebih 7-8 gelas belimbing perhari
·         Kolaborasi dokter jika tanda cairan berlebih muncul memburuk
·         Atur kemungkinan transfusi
 

 

Mengenai Saya

Foto Saya

yakin akan hati,, jangan pernah ragu
 lebih baik gagal dalam mencoba Dari pada tidak Pernah mencoba Sama Sekali !!!